Matanya terpejam begitu indahnya. Diluar angin dan hujan menderu-deru. Tidak pernah mendung begitu sendu dan membiarkan alam seakan ingin bercerai berai.Aku menahan tangis dengan keras. Tidak pernah ada rasa kehilangan yang begitu sangat…. teramat sangat, seperti luka hati saat ini.
Kusadari kutemukan rasa yang selama ini hilang, dan selalu kubiarkan menggelepar dialam bawah sadarku. Diantara kerumunan manusia, aku merasa sendiri, sunyi, hening, dan kehilangan duniaku…. Duniaku yang selama ini terasa begitu ceria…… ******** Satu hari sebelumnya….. Aku membuka lemari pakaianku. Disuatu sudut, kutemukan 7 buah kado yang terbungkus rapi, meski pada beberapa kertas kadonya tampak mulai lusuh. 7 kado ulang tahun untuk seorang sahabat yang sangat kusayangi, 7 kado untuk setiap tahun dari 7 tahun kebersamaan kami. Kado yang tidak pernah sampai ketangannya, karena aku selalu diliputi keraguan. Kami bersahabat 7 tahun. 6 tahun bersama saat kuliah, dan satu tahun ketika kami berpisah dan bertugas saling berjauhan. Satu siang yang terik, aku pernah bertanya kepadanya, ” Apa yang akan kita lakukan kalau ternyata kita berjodoh ?” “Hmmmm…” dia memejamkan matanya yang indah, kemudian membelalak dengan ceria, ” Kita akan pergi ke Thailand !” aku mengerutkan kening, kok tidak nyambung banget sih, ” Mau ngapain ?” ” Yaaa…honeymoon lah..masa nonton gajah….” kemudian dia tertawa geli merasa lucu dengan jawabannya. Bagaimana mungkin aku sanggup memberinya kado setiap dia ulang tahun, karena selalu saja candanya yang muncul. Tahun pertama, ketika mengenalnya, aku membelikan sebuah kalung etnik, karena dia sedang tergila2 pada sesuatu yang berbau etnik. Aku hampir saja menaruhnya di tas miliknya, ketika dia bertanya, ” Si Gilang makin lama makin cakep ya ? bikin gue tergilang gilang, hahaha…..” aku mengurungkan niatku untuk memberikan kado itu. Aku tidak mau perasaanku yang aku tidak tahu pasti ini, membuatku kehilangan seorang sahabat yang ceria yang selalu membuatku bahagia. Tahun kedua, dia sedang asyik dengan hobi fotografinya. 6 bulan Kukumpulkan uang sakuku demi membeli sebuah kamera Nikon untuknya. Aku ingin memberikannya disuatu tempat yang romantis yang telah kupersiapkan untuk makan malam. Ketika sore itu dia menangis meneleponku , ayahnya masuk Rumah Sakit karena serangan jantung. Berhari hari dia menemani ayah yang sangat disayanginya di rumah sakit. Wajahnya sangat berduka. Aku hanya bisa memandangnya dengan galau. Kado ke-2 pun aku simpan kembali disudut lemari yang gelap. Segelap seluruh ruang hatiku. Tahun ketiga, Aku mempersiapkan sebuah gaun hijau pupus yang sangat cantik untuk kulit putihnya. Dia sedang sangat modis modisnya dan mulai berdandan saat kuliah di tingkat III. Aku kadang tidak mengerti apa yang membuatnya sekarang sangat feminin. Dan jawaban itu hadir, saat kado itu masih tersimpan rapi, dan aku berniat mengajaknya makan siang itu, untuk merayakan ulang tahunnya. Dia menatapku dengan mata yang sangat bersalah, ” Ardi…maaf ya…aku belum cerita….. aku sudah jadian sama Dicky, dan siang ini adalah acara pertama kami….untuk makan siang sama2 dengan keluarganya. ” Aku mencoba mengerti dan menegaskan diriku sendiri bahwa dia hanya sahabat. Tapi Dicky sungguh tidak pantas untuknya. Dia begitu manis, supel dan ceria. Sedangkan Dicky begitu kaku dan aku tahu pasti dia sangat posesif. Perkiraanku benar. Sejak siang itu Clara menjauh….dan terus menjauh… Tahun keempat, aku menyiapkan sebuah jam tangan yang sangat manis untuknya. Kutemukan ketika sedang berjalan dengan Dewintha, yang saat itu sedang dekat denganku. Entah kenapa, dikepalaku dan dihatiku tetap saja sahabat termanisku yang selalu tampil didepan. Meskipun jalan dengan Dewintha, aku teringat ulang tahunnya seminggu lagi. Dan aku menemukan jam tangan yang sangat manis itu. Aku tidak mengatakan akan memberikan pada siapa, tapi aku juga salah, tidak memperhatikan mimik Dewintha yang tampak kaget dan sumringah. Pagi itu Dewintha menemukan kartu ulang tahun yang kubuat untuk Clara. Dia terluka dan melempar kado itu ke muka ku. Jam tangan itu pun rusak, sama rusaknya dengan hubunganku dengan Dewintha. Meskipun rusak, aku tetap menyimpannya bersama ketiga kado lainnya. Tahun kelima, aku menemukan sebuah buku yang isinya sangat bagus. Dan aku tahu, Sekarang Clara sering bersembunyi diperpustakaan. Dia sering terlihat murung. Tapi dia tidak pernah mau cerita kenapa. Aku sering melihat wajah indahnya begitu sendu dan kehilangan aura seorang yang jatuh cinta ketika bersama Dicky. Aku tahu, dia tidak bahagia, tapi aku bukan siapa siapa. Aku hanya seorang laki2 yang dianggapnya hanya sebagai sahabat. Padahal, kalau saja dia tahu, begitu inginnya aku merengkuhnya kedalam pelukanku, dan mengatakan bahwa dia tidak perlu bersedih, karena aku akan selalu menjaga hatinya. Buku itu sudah kubungkus rapi, ketika aku melihat Dicky memakaikan sebuah kalung yang indah dilehernya di taman mahasiswa, disuatu sore yang sepi. Aku melihat wajah manisnya tersenyum sangat manis, terlihat bahagia. Pantaskah aku merusaknya ? Tahun keenam, aku membelikan sebuah mukena yang sangat bagus, aku berangan angan seandainya mukena ini bisa kupakaikan diwajahnya untuk shalat berjamaah bersamaku, karena sebentar lagi kami lulus dan akan berpisah. Saking terburu burunya ingin memberikan mukena ini untuknya, motorku yang kularikan dengan kecepatan tinggi, terpaksa membawaku kerumah sakit karena hampir menabrak seorang wanita tua yang menyeberang tiba tiba, aku jatuh untuk menghindarinya. Kakiku patah, dan harus dirawat untuk beberapa lama. Setelah lulus, kami berpisah, bertugas ditempat yang sangat berjauhan. Dia bertugas di Lampung. Kami masih saling berkomunikasi. Dia meninggalkan Dicky. Aku tidak tahu kenapa. Dia tidak pernah mau cerita. Yang aku tahu, 3 bulan setelah lulus Dicky menikah dengan gadis lain. Aku menunggu tahun ketujuh, kado ketujuh yang akan menjadi miliknya. Aku mempersiapkan sebuah cincin untuknya. Kali ini aku tidak perduli jika dia marah, dan tidak mau lagi menjadi sahabatku. Dia harus tahu perasaan yang kadang tidak bisa kumengerti ini. Aku ingin melepaskan rasa yang telah 7 tahun mengikutiku, dari aku terbangun dipagi hari sampai tertidur di malam hari. Membuatku tidak bisa merasakan nyaman bersama gadis lain yang mencintaiku. Aku tidak tahu, apakah ini suatu keputusan yang benar dan akan kulaksanakan, atau keberanianku kembali menguap, dan kado ke tujuh ini pun akan bergabung bersama teman2nya yang lain, mengendap 7 tahun di belakang lemari. Aku mengumpulkan segala kekuatanku untuk menyambut besok, aku sudah berada di Jakarta, tapi dia baru akan datang besok. kami berjanji bertemu di Jakarta pada hari ulang tahunnya yang ke-25. Besok. Aku tidak tahu, apakah setelah besok duniaku akan berubah, menjadi murung atau bahagia. Tapi aku tidak akan menundanya kembali. Cukup sudah 7 tahun memendam rasa yang tidak pernah mau menjauh. Aku akan menjaganya, tidak akan ada airmata yang akan kubiarkan menetes dari mata indahnya. Tidak akan ada kabut mendung menghiasi wajahnya dan hatinya. Aku akan mencintai dan melindunginya, menjadi tempat bersandar untuknya. Aku bukanlah seorang laki2 yang sempurna, tapi aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Besok, aku sungguh tidak sabar menantinya. 7 kado untuk Clara. 7 kado selama 7 tahun kebersamaan kami. ************* Ardi masih terbaring koma. Wajahnya yang teduh dan selalu menyejukkan hati, tidak lagi tersenyum. Aku menggenggam tangannya. ” Jangan pergi sahabatku…..aku ingin menceritakan sesuatu untukmu,” airmataku mulai menetes perlahan. Aku merasakan kehilangan ketika tidak bersamamu. Aku merasa tidak menjejak bumi jika tidak mendengar suara teduhmu yang sangat bijak. Betapa inginnya kutanyakan, setiap saat, sejak 7 tahun yang lalu, adakah kilatan cinta yang tadi seakan lewat dimatamu ? Betapa inginnya…..mengulang satu kali lagi saja, kehidupan ini, untuk bisa bersamamu. Betapa banyaknya waktu yang terbuang dan sia sia…. Aku merasakan kehampaan yang senyap, buka matamu Ardi…..aku ada disini sekarang. Kulihat air mata menetes dari matanya. Apakah dia mendengarku ? Ya Tuhan… sekarang aku terisak isak. Betapa banyaknya masa yang seharusnya indah untuk kami namun terlewatkan… Aku memeluk 7 kado untukku….disertai surat2nya dengan untaian kata yang indah dan penuh cinta. 7 kado sejak 7 tahun lalu, yang selalu disiapkannya untukku. Dan aku seharusnya mengerti, kenapa setiap hari ulang tahunku, dia selalu tampak gugup. Kecelakaan yang menimpanya akibat tabrakan beruntun, saat dia terburu2 ingin menjemputku di Bandara, telah membuatnya koma, dan terbaring disini….membawa seluruh hatiku ikut bersamanya, melarutkan masa 7 tahun yang seharusnya indah untuk kami… namun terlewatkan…. Terkadang kita sering menunda untuk membahagiakan orang yang kita sayangi dan memilih untuk menyakiti diri sendiri….. lalu satu masa pun berlalu….

Tidak akan pernah kembali,

Tidak akan pernah terulang.

-The Lost Soul-

Advertisements