Aku melepaskanmu.

Aku menyadari hal itu ketika pada suatu pagi yang basah dan diguyur hujan lebat, bayanganmu melekat di kaca jendela yang tengah kupandangi. Melesak ke dalam benakku dan membuat huru-hara di sana; tetapi hatiku tidak bersuara. Ini aneh. Karena biasanya ketika kamu menampakkan wujudmu dalam setiap benda-benda transparan yang kulewati, aku akan menghabiskan sisa hari dengan melamunkan kamu dan mengasihani diri sendiri, seperti yang selalu terjadi selama ribuan hari belakangan ini.

Dengan gundah, aku pun mulai membongkar kembali lembaran buku-buku harianku, dan kembali ke masa lalu. Tidak ada rasa dingin itu, yang menjalari jari-jemariku setiap kali aku menelusuri namamu di atas halaman-halaman itu. Aku seperti mati rasa, dan yang terlintas dalam pikiranku hanyalah betapa buku-buku harianku selalu terlalu cepat habis karena aku terlalu banyak menulis tentang kamu.

Foto-fotomu terselip dalam setumpuk kenangan lama yang kuabadikan dalam sebuah kotak kayu berwarna coklat–bersama sosok-sosok lain yang pernah singgah dan tersingkir seiring berlalunya waktu. Teronggok di samping buku-buku harianku, kotak itu membukakan pintu bagiku untuk melihat kamu lagi. Kamu ketika dulu, yang pernah membuatku merasa begitu istimewa. Tetapi hari itu, pandanganku pada siluetmu tidak lagi meledakkan utopia tentang aku dan kamu di masa depan.

Ini ganjil. Karena biasanya semua ritual menyedihkan itu akan membuat hatiku berantakan dan ribut sendiri.

Tapi kali ini aku melewatinya seperti rasa cukup yang menerpa ketika aku mulai terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang benar-benar aku sukai. Ketika frekuensi santapan itu telah mengintens menjadi sekali seminggu, tiba-tiba saja kenikmatannya menjadi tidak terasa lagi.

Meraih telepon genggam yang berkedip-kedip, kusadari bahwa sebaris peringatan telah lama berpendar di sana. Inbox-ku sudah terlalu penuh. Tanpa rasa sayang dan pikir panjang, tiba-tiba saja aku sudah menghapus semua sms-mu yang selama ini sengaja kusimpan, untuk diintip kembali tiap kali aku merasa bosan.

Kali ini tidak ada sesal.

Sudah terlalu banyak sampah yang berlama-lama kutumpuk di dalam telepon genggamku. Membuang sampah-sampah itu seperti memberi kebebasan bagi si telepon genggam untuk bernapas lega. Ia menjadi sehat dan hidup kembali, sehingga mampu mengantarkan pesan-pesan baru dengan kecepatan yang luar biasa.

Tengok ponselku sekarang. Dan namamu tak ada lagi di urutan paling depan maupun paling belakang. Kehadiranmu tak akan terlacak dalam jajaran inbox, outbox, maupun draft.

Dalam satu lompatan waktu yang sudah terlalu genting, aku berdiri di depan setumpuk kenangan itu. Sekarang, atau tidak sama sekali. Melompat pergi, atau bersiap-siap jatuh lagi. Kupandangi masa lalu itu untuk yang terakhir kali. Menggigit bibir bawah berulang kali dan menabah-nabahkan diri.

Kemudian aku berbalik pergi. Meninggalkan semuanya. Tidak ada kata-kata perpisahan. Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Hanya secangkir kopi, sepotong bakpao ayam, serta buku The Melancholy Death of The Oyster Boy-nya Tim Burton. Aku pun terjaga sampai pukul 4 dini hari. Mendengarkan gemericik hujan yang tidak berhenti-berhenti.

Aku jatuh tertidur, dan membuka mata menjelang pukul 5 pagi. Menatap nyalang langit-langit kamar dan mematikan weker yang baru satu menit lagi akan berbunyi. Hujan masih belum berhenti.

Dan aku masih memutuskan untuk tidak kembali.

Karena penyesalan-penyesalan yang dulu pernah ada, sekarang bukan lagi milikku. Aku melepaskanmu. Karena telah tiba saatnya, ketika semua kebahagiaan yang aku rasakan bukan lagi tentang kamu.

Advertisements