Kita tidak pernah merayakan Hari Kasih Sayang bersama. Tentu saja tidak. Aku hanya kamu temui secara sembunyi-sembunyi. Lupakan makan malam romantis dan menghabiskan seharian itu berdua saja. Tidak, tentu kamu akan memilih untuk berada di sisi perempuan itu. Aku memang selalu menjadi prioritas kedua.

Ada saat-saat dalam hidupku ketika aku meyakini bahwa ini hanya sementara. Bahwa aku tidak akan selamanya menjadi yang kedua. Bahwa kamu, suatu hari, akan memutuskan untuk memilihku dan menjadikanku satu-satunya. Ada masanya ketika aku meyakini bahwa menjadi prioritas kedua adalah sesuatu yang harus kuterima dengan lapang dada. Ini demi kamu. Demi kita. Yang perlu kulakukan hanya bersabar dan tetap berada di sisimu.

Tetapi tahun demi tahun berlalu, dan aku tidak lagi mempercayai hal-hal yang dahulu kuyakini sepenuh hati. Kesendirian atau kebersamaan tidak menggangguku. Tetapi kenyataan bahwa aku tak pernah tahu apakah sesungguhnya aku sendiri atau bersamamu adalah sebuah kutukan yang menghantui hari-hariku. Ketidaktahuan apakah aku adalah milikmu atau apakah kamu adalah milikku, menjadikan dunia buram di mataku. Aku terantuk, tersandung, terjatuh, tanpa pernah tahu di mana aku sesungguhnya berada: di relung atau palung hatimu?

Dan waktu berjalan. Ribuan hari terlewati. Kemudian di penghujung malam, aku hanya punya kenangan. Kenangan yang sudah usang, sehingga begitu rapuh untuk disentuh. Jika aku mencoba merabanya, semua hanya akan meluruh menjadi serpih-serpih yang tak akan lagi bisa kusulam utuh.

Aku bosan dengan mendung di langitku. Aku menginginkan matahari. Aku kedinginan karena hujan, dan mengharapkan musim panas. Aku tak lagi nyaman dengan langit yang melulu ungu dan kelabu. Aku ingin harum manis merah jambu dan balon-balon berwarna lucu. Menangis tidak lagi romantis. Aku ingin berbagi tawa dan tersenyum kepada dunia.

Jadi, ijinkan aku untuk jatuh cinta dengan yang lain selain kamu.

Dengan seseorang yang akan membuatku tertawa, bukan menitikkan air mata. Dengan seseorang yang akan menggenggam tanganku dan berkata bahwa ia menginginkanku kepada dunia, bukan menyembunyikannya. Dengan seseorang yang akan berbisik di telingaku bahwa aku adalah satu-satunya, dan sungguh-sungguh memaksudkannya.

Mungkin, bersamamu, aku sudah lupa apa artinya cinta. Kamu terlanjur membuatku percaya bahwa cinta adalah penerimaan diri ketika dijadikan orang ketiga. Dan aku bodoh karena meyakininya. Hari ini, aku menyadari betapa aku sudah terlalu lama menyakiti diriku sendiri; demi kita. Kita yang mungkin bagimu tidak pernah ada.

Aku juga ingin berbahagia.

Seperti kamu, dan dia.

Dan jika bahagia berarti melepasmu; jika itu berarti melewati hari-hariku tanpamu, tak mengapa. Karena yang kuinginkan saat ini adalah melindungi jiwaku, dan memastikan bahwa hatiku masih punya kapasitas yang cukup untuk mencinta.

Advertisements