Waktu itu musim penghujan di awal tahun. Kita bertemu untuk yang pertama kali pada sebuah dini hari. Aku basah dan setengah mabuk. Maskara dan eyeliner-ku sudah meluntur, membentuk kontur-kontur hitam di sekeliling mataku yang sembap. Dua cangkir kosong yang tadinya terisi capucinno hangat tetap tak mampu mengusir dingin itu pergi; meski bajuku sudah kering.

Lalu kamu datang. “Maaf kalau saya lancang, tetapi meja dan sofa lain di sini penuh. Kalau Anda sendirian, boleh saya duduk di sofa ini dan kita berbagi meja?”

Kamu mengenakan jins yang sudah belel dan kemeja batik. Sepatu Converse-mu sudah tak jelas warnanya. Kata “serasi” jelas tak berdampingan dengan namamu di dalam kamus bergambar. Sebuah tas besar yang kelihatannya berat tersampir di pundakmu. Pemandangan semacam kamu terlihat asing di mataku. Satu-satunya yang familiar dari dirimu adalah kamera yang tergantung di lehermu. Hasselblad.

Saat itulah aku tahu, bahwa kamu berbeda.

“Duduk saja, Mas,” aku mengangguk, kemudian menguap menahan kantuk. “Nggak setiap malam ketemu orang yang bawa Hasselblad. Seri apa ya, itu?”

Kamu tersenyum, sedikit terkejut. “H3DII-50,” katamu seraya duduk di hadapanku. Malam itu kamu memesan iced caramel macchiato. “Anda fotografer?”

Aku tertawa. “Biasanya justru jadi yang difoto, Mas,” jawabku. “Hasselblad sudah sering dibawa ke luar angkasa. Ikut Apollo 8, Apollo 11, Apollo 15—bahkan waktu ikut Apollo 11, kamera itu digunakan di permukaan bulan…”

Dan tangisku pecah.

Kamu bergeser di sofamu, jelas merasa tidak nyaman. “Anda baik-baik saja, Jeng?” tanyamu hati-hati.

Aku menggeleng.

Kamu duduk saja di sana malam itu. Melakukan entah apa di komputer portabelmu. Kamu hanya menemaniku menangis sampai dadaku mau pecah, dan mengambilkan segenggam tisu lagi dari dekat konter ketika tisu yang kugunakan untuk menghapus air mata dan mengelap ingus sudah nyaris hancur. Ketika tangisku mereda, kamu meletakkan iced green tea latte di hadapanku.

“Minum dulu, Jeng…”

Aku menyesap green tea latte itu pelan-pelan.

“Mungkin lebih baik Jeng pulang dulu. Supaya tenang. Jika Jeng berkenan, saya bisa mengantar,” kamu menawarkan.

“Pulang ke apartemen yang kosong itu buat apa, coba, Mas?” jawabku. Kulayangkan pandanganku ke luar jendela yang basah. Tetes-tetes air nampak bercahaya tertimpa sinar lampu dari mobil-mobil yang lewat. Gerimis masih berjatuhan satu per satu, seperti jarum-jarum kecil yang hening menikam tanah.

Kamu diam dan menundukkan kepala, kembali memfokuskan diri pada komputermu. Mungkin kamu merasa aneh dan tidak pada tempatnya. Mungkin kamu menyesal karena telah berbagi meja denganku.

Kita diam saja seperti itu selama beberapa saat.

“Bagaimana kalau kita cari makanan sungguhan?” kamu mengepak barang-barangmu dan memandang ke luar jendela. “Ada nasi goreng kambing yang enak di dekat sini, dan buka sampai pagi.”

Beberapa saat kemudian, kita sudah duduk berdampingan di warung tenda yang menjual nasi goreng kambing itu. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Pergi dengan seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Tetapi bagaimana mungkin kamu tidak mengenalku? Kamu satu-satunya orang yang pernah melihatku menangis.

Sambil menyantap nasi goreng kambing yang masih hangat, kita mengobrol sekilas tentang pekerjaan masing-masing dalam suasana yang masih agak canggung. Kamu, jelas, fotografer. Terkadang memotret untuk koranmu (“Untuk ini aku pakai Canon, Jeng, disediakan kantor,” kamu menambahkan), terkadang mengejar hobimu memotret produk, lansekap, dan seni dengan Hasselblad-mu itu. Aku bilang, aku desainer interior. Terkadang juga mendesain kartu undangan atau membantu teman menata visual etalase di mall.

Kamu bertanya ada apa antara aku dan Hasselblad. Aku bilang, ada masanya ketika aku tergila-gila pada segala sesuatu yang berhubungan dengan kamera itu. Kupikir, untuk saat ini, itu saja yang perlu kamu ketahui. Lalu kutenggak teh tawar hangat yang disajikan. Masih belum juga mengusir sisa-sisa alkohol itu pergi.

Menjelang terbit matahari, kamu mengantarku pulang. Kita diam saja selama perjalanan itu. Hanya ditemani lagu-lagu Edith Piaf yang mengalun dari tape mobilmu. Tepat sebelum berbelok memasuki kompleks apartemenku, kamu menginjak rem. Lalu kamu majukan mobilmu sedikit, hingga berada tepat di bawah lampu jalan. Kamu menatap wajahku. Lalu mengalihkan pandanganmu ke sebuah billboard besar di pinggir jalan, menampilkan edisi terbaru sebuah majalah fashion. Lalu kamu menatapku lagi.

“Yang di foto itu… kamu, Jeng?”

Kamu tahu, Mas? Sejak kita berpisah, aku semakin sering menerima tawaran pemotretan, baik untuk halaman fashion majalah atau untuk iklan.

“Kok kamu rajin lagi? Dulu katanya mau berhenti?” tanya kawanku yang bekerja sebagai editor fashion di sebuah majalan.

Aku tak pernah bilang bahwa ini semua untuk kamu, Mas. Aku ingin ada di mana-mana untuk kamu. Sehingga kamu bisa melihatku di billboard lain lagi sewaktu tengah menyetir malam hari. Waktu tengah jalan-jalan di mall. Duduk termenung di sudut sebuah kedai kopi. Atau tengah iseng membolak-balik majalah lifestyle di ruang tunggu.

Aku hanya tidak ingin kamu melupakanku, Mas.

———-

Image: http://vi.sualize.us/view/d6d16180566c5cc2f647aa0bebd6c91e/

Advertisements