“Perempuan itu sebaiknya dicintai, bukan mencintai,” demikian kata Mami kepadaku. Waktu itu ulang tahunku yang ketujuh belas. Tidak ada perayaan istimewa. Hanya ada aku dan Mami, serta secangkir teh hangat dan nasi kuning buatannya. “Carilah lelaki yang mencintaimu jauh lebih dalam daripada kau mencintainya, Jeng. Niscaya, hidupmu akan bahagia…”

Aku tidak pernah mempercayai perkataan Mami itu. Pada hari ulang tahunku yang ketujuh belas, bunyi permohonanku adalah: Tuhan, tolong jangan biarkan aku menjadi seperti Mami.

Mungkin Mami bahagia. Mungkin juga tidak. Tetapi aku tahu, Mami tidak pernah mencintai Papi. Sebaliknya, Papi begitu mengagumi Mami. Setiap kali melihatnya, mata Papi akan berbinar-binar. Pada sore-sore yang cerah, Papi akan pulang dari kantor dan orang pertama yang akan dicarinya adalah Mami—bukan aku. Ada bunga-bunga cantik, kado kecil, serta bebek panggang kesukaan Mami yang akan dibawakan Papi dari waktu ke waktu. Di malam hari, Papi suka memeluk Mami yang tengah menyiapkan makan malam dari belakang.

Tapi tak pernah ada binar-binar yang sama di mata Mami. Belakangan aku tahu, Mami tak pernah mencintai Papi. Setidaknya bukan dari jenis cinta yang sama dengan yang kumaksudkan. Mami tentu menganggap Papi sebagai sahabat. Rekanan. Teman terbaik. Orang yang bisa diajaknya menghabiskan sisa hidup bersama. Tetapi ketika kita bicara tentang cinta, hasrat, ledakan merah tua di udara dan letupan rindu yang menyala-nyala, jelas Mami tak memiliki semua ini.

Mungkin hubungan Mami dan Papi adalah pengejawantahan nasihatnya padaku. Mami memilih untuk dicintai, bukan mencintai. “Mencintai lebih banyak melukai, Jeng,” ujar Mami.

Bahkan ketika Papi meninggal lima tahun lalu, Mami hanya menangis sebentar, kemudian menjalani kehidupannya seperti biasa. Tidak ada duka yang berkepanjangan. Tidak ada rasa kehilangan yang membuat Mami gamang. Tak ada binar-binar yang lenyap dari matanya.

“Aku tak ingin mencintai seperti Mami, Mas,” aku berkisah padamu hari itu, ketika kita tengah berjalan menyusuri bukit-bukit cantik di Yangmingshan National Park, tak jauh dari pusat kota Taipei. Sebelumnya, kamu tengah begitu bersemangat berkisah mengenai Chiang Kai Sek. “Setelah Papi meninggal, aku keluar dari rumah untuk mencari jalanku sendiri. Untuk bisa mencintai dengan caraku sendiri. Aku tak percaya akan cinta satu arah. Rumah hanya membuatku teringat Papi dan cintanya pada Mami. Dan semua ingatan itu membuatku bersalah pada almarhum Papi… mungkin aku tak bisa memaafkan Mami untuk hal yang satu ini: untuk tidak membalas cinta Papi kepadanya.”

“Jangan terlalu keras pada Mami, Jeng,” katamu, sementara kaki kita melangkah menyusuri hutan kecil ke pondok tetirah Chiang Kai Sek. “Setiap orang akan memilih caranya sendiri untuk mencintai, dan pada dasarnya setiap orang ingin bahagia. Kebahagiaan itu bentuknya bisa bermacam-macam, Jeng. Tetapi apapun bentuknya, ia selalu datang bersama konsekuensi. Tak ada yang namanya kebahagiaan sempurna, Jeng.”

“Mas, mas, tolong fotoin kamar itu dong,” ujarku, mengalihkan pembicaraan sembari menyeretmu kesana kemari. “Terus meja itu dong, Mas. Abis itu, lemari kayu di pojok itu ya… eh, eh… isinya juga dong.”

“Huh, riwil!” kamu bersungut-sungut. Tapi kamu arahkan juga Hasselblad-mu untuk mengabadikan semua objek yang kutunjuk.

Aku tak bercerita padamu, bahwa Mami sempat menyinggung kamu. “Mas-mu itu baik. Dia jenis lelaki yang akan membahagiakanmu. Dia mencintaimu, Jeng.”

Hari ini aku memandangmu yang sedang sibuk memotret. Bajumu sedikit basah karena kita sempat terdera hujan barusan. Grass Mountain, begitu dulu mereka menyebut tempat ini. Daerah pegunungan yang menenangkan, dengan sumber air panas dan bebungaan: rhododendron, azalea, juga sakura.

Mungkin itulah kamu, Mas. Kamu adalah Yangmingshan National Park. Pegunungan yang tenang, tempat aku bisa melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kamu adalah serupa sumber air panas, tempatku bisa mengusir penat dan menghangatkan diri dari terpaan dingin dan lelah yang melanda setiap saat.

Tetapi dia… bagiku, dia adalah Taipei, Mas. Dia adalah pusat dari segala pusaran hati. Tempat di mana segalanya bersinar dan berdenyut. Dia selalu bisa membuat jantungku berdegup lebih kencang. Dia adalah binar-binar di mataku yang terpantul pada bening matanya. Dia adalah suara-suara yang tanpanya aku merasa terlalu hening.

Mungkin dia memang bukan seseorang yang selalu ada. Tak seperti kamu, ia bahkan tak ingat hari ulang tahunku atau bunga kesukaanku. Tetapi kami punya waktu sendiri, Mas. Dan cara sendiri untuk mencintai. Jika sesekali aku dibuatnya sakit hati, kurasa itu adalah konsekuensi. Ya, konsekuensi mencintai, sebagaimana sempat kau katakan tadi.

Ini sama saja seperti jutaan orang yang mengutuki Jakarta dengan segala kebusukannya, tetapi mau tak mau selalu saja kembali dan kembali lagi; kemudian enggan pergi-pergi lagi.

Lalu kata-kata Angela Foligno terngiang dalam benakku ketika kau mengarahkan kameramu untuk menangkap siluetku hari itu:

Because of love, and in it, the soul first grows tender, then it pines and grows weak, and afterward finds strength… 

———

Image: http://vi.sualize.us/view/c84c8bc5d940ca48bc737523ff95abac/

Advertisements