Dia adalah nada-nada dalam hidupku. Kadang kuat, kadang samar. Tapi pada setiap langkah yang tersesat, aku selalu bisa mendengar nada-nada itu, bahkan dengan mata terpejam. Seperti pasir yang basah, seperti ombak, air dingin yang merendam mata kakiku dan dermaga yang hangat; nada-nada itu menyelimutiku seperti matahari, lautan, dan lengkingan burung-burung pantai di musim panas.

Kedatangannya selalu ditandai dengan perjalanan panjang menuju pantai-pantai yang belum pernah kudengar namanya; juga pagi hari yang dihabiskan di atas perahu: dengan keranjang piknik, gitar, sunglasses, sendal jepit, celana pendek, baju tipis, dan Hasselblad-nya. Ia senang memotretku ketika aku melompat dari atas perahu ke air yang dingin sambil berteriak kegirangan. Kemudian ia akan terjun menyusulku, dan kami akan berenang-renang hingga tungkai-tungkai kami terasa pegal.

Di akhir hari, kami akan merapat ke pantai; lalu duduk-duduk di dermaga memandangi matahari terbenam, dengan kulit yang sedikit perih karena air laut; dan coklat terbakar matahari. Dia akan memelukku dan membisikkan nada-nada itu di telingaku. Nada-nada yang semakin lama semakin melambat, dan melambat, dan melambat, sebelum mendarat di bibirku dalam satu kecup yang bermandikan cahaya jingga. Dan dunia mendadak sunyi.

Dia yang membuatku melahap segala sesuatu tentang Hasselblad; tentang Cobain dan Nirvana; tentang semua yang melingkupi dunianya. Dia yang membuatku merasakan semua: cinta pada masa-masa terbahagianya; cinta pada masa-masa tersedihnya. Kisah kami seperti perjalanan roller-coaster yang naik-turun dan penuh dengan kelokan tajam, tapi selalu bisa membuatku memekik riang. Terkadang, kami seperti carousel—penuh dengan kelap-kelip romantisme seperti kisah-kisah dongeng: lampu yang menyala, kereta kencana, cermin-cermin indah, musik yang mengalun…

Segalanya berbeda, Mas. Berbeda dengan apa yang kita miliki. Kamu, misalnya, tak terlalu suka pantai. Kamu lebih suka pegunungan dan perbukitan yang hijau meraya. Mungkin, segala tentang kamu memang selalu sunyi dan menenangkan, Mas. Dingin dan mendung; menyejukkan. Sebaliknya, semua tentang dia selalu penuh kejutan; berwarna, riuh, cerah, hangat.

Bersamamu, aku merasa seperti tengah menaiki bianglala di malam hari. Ya, Ferris wheel yang tenang, terkendali, tidak menyilaukan. Aku selalu bisa menebak kapan kita berputar, kapan kita di bawah, kapan kita di atas; dengan semilir angin membelai wajah kita, membawa wangi lengket harum manis dan berondong jagung karamel.

Kamu memang tak pernah mempermasalahkan dunia lain yang kumiliki di balik cermin. Kamu tak pernah mempertanyakan, apalagi memintaku memilih. Kamu hanya mengada di saat-saat aku membutuhkan seseorang. Begitu saja. Tanpa syarat. Kamu yang menghapus air mataku ketika dia menerbitkannya. Kamu yang ada di sisiku ketika dia tak ada; dan menyingkir ketika dia hadir.

Kamu selalu mengingatkanku pada almarhum Papi, Mas. Kamu persis seperti beliau, yang selalu ada untuk Mami tanpa pernah meminta lebih. Dan aku… aku jadi membenci diriku sendiri, Mas. Mungkin tanpa kusadari, aku sudah menjadi seperti Mami. I’ve taken you for granted.

“Pada akhirnya, kamu akan memilih seseorang yang akan selalu ada untukmu, Jeng. Someone you can count on. Seseorang yang bisa membahagiakanmu,” Mami pernah berkata.

Tapi bukan wajahmu yang terbayang ketika aku tengah berpikir tentang cinta. Justru nada-nada itulah yang mengalun dan melingkupi hatiku dengan ratusan kupu-kupu. Mungkin, saat ini, memang bukan kebahagiaan yang aku cari.

—————

Image: http://vi.sualize.us/view/b675b1c30271689a9c78605445946009/

Advertisements