Waktu memaksa kita untuk terus maju. Manusia bisa saja berkutat dalam kenangan, dalam sisa-sisa masa lalu yang masih mengkristal menjadi sebentuk sekarang, tetapi waktu tidak pernah diam menunggu. Dia akan terus berlalu, tak peduli meski kita masih tersaruk-saruk jauh di belakang.

Itu yang pernah dia katakan padaku, Mas. Dia mengajariku untuk menikmati momen. Setiap hari, setiap menit, setiap detik. Setiap sentuhan, setiap pelukan, setiap kecupan. Dia memang bukan pencemas atau pemikir sepertimu, Mas. Dia tak pernah tertebak. Spontan.

“Sudahlah, jangan risau akan esok hari,” katanya selalu. “Jangan pertanyakan masa depan, karena toh kita punya saat ini.”

Aku selalu mengaguminya untuk itu. Kupikir, seseorang yang bisa hidup untuk hari ini saja, pastilah seorang pemberani. Tak ada kecemasan akan apa yang akan terjadi nanti. Tak ada gundah. Tak ada sesal berlama-lama. Hari ini adalah hari ini. Detik ini adalah detik ini. Ia selalu mereguk semua, sepenuhnya.

Mungkin itu juga sebabnya ia melupakan hal-hal terencana. Seperti hari ulang tahunku. Selama bertahun-tahun kami bersama, hanya dua kali ia ingat hari ulang tahunku. Aku sering katakan bahwa ingatan semacam itu memang tidak terlalu penting. Ia sering membawakanku hadiah di hari-hari biasa. Mengejutkanku; karena aku merasa tak ada sesuatu yang perlu dirayakan.

“Hari ini kita bertemu, aku melihatmu, dan bahagia. Jadi ini hadiah untuk itu! Bukankah bersamamu selalu merupakan sebuah perayaan tersendiri?” katanya sambil tertawa ketika ia membawakanku seikat bunga matahari pada suatu hari Selasa yang biasa-biasa.

Memang, ia berbeda denganmu, Mas. Kamu—aku tahu, jauh-jauh hari kamu sudah menandai hari ulang tahunku di kalender, dan sudah berpikir mengenai hadiah apa yang akan kamu berikan padaku dua bulan sebelumnya. Kamu yang akan selalu ada pada momen-momen istimewa: syuting iklan televisiku yang pertama, kontrak dengan salah satu perusahaan kosmetika di Taiwan, pergantian tahun…

Sementara dia, dia hanya hadir ketika dia menginginkannya. Dia manusia bebas, demikian aku selalu berkata di hadapan Mami. Tetapi Mami tidak mengerti. “Bagaimana mungkin kamu bertahan dengan seseorang yang tak selalu ada untukmu?” ia bertanya.

Mami memang selalu menyukaimu, Mas. Seperti pernah kukatakan padamu, kamu mungkin mengingatkannya pada Papi. Seseorang yang bisa diandalkan 24 jam. “Bayangkan kalau mobilmu suatu hari mogok di jalan tol tengah malam, siapa yang akan kamu telepon? Dia—atau Mas?” tanya Mami lagi sambil mengaduk-aduk capcay di atas wajan.

Aku tak suka perbandingan itu. Menurutku, itu tidak adil. Dia adalah dia, dan kamu adalah kamu. Ini bukan kontes mengenai siapa yang bisa selalu memenuhi panggilanku 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Ini bukan tentang siapa yang harus kupilih. Kamu bahkan tak pernah memintaku memilih. Kamu hanya mengada seperti udara yang kuhirup. Kamu tak banyak protes.

Perkataan Mami malah membuatku jengah. Mami membuatmu terdengar seperti montir yang selalu siap-sedia dan bisa dipanggil kapan saja untuk membetulkan mobil mogok. Aku tak tahu siapa tepatnya kamu untuk hatiku, Mas. Tapi kurasa, kamu lebih dari itu. Keberadaanmu dan ketiadaannya, keduanya selalu punya tempat di hatiku.

Pada hari ulang tahunku yang kesekian, kita tengah berada di Kanada. Aku ingat, waktu itu, kita menghabiskan pagi hari di Civilization Museum di Ottawa; setelah tengah malamnya kamu membawakanku sekotak es krim yang ditancapi lilin. Kita berjalan menyusuri lorong-lorong museum yang menyimpan waktu dalam kotak-kotak kaca.

“Lima tahun setelah ini, kita ada di mana, ya, Mas?” tanyaku sambil menggamit lenganmu.

“Mungkin di penjuru dunia yang entah mana lagi, Jeng,” jawabmu, tertawa. “Bagaimana kalau kita menjelajah Amerika Selatan?”

“Menarik!” aku tersenyum.

“Menurutmu, lima tahun ke depan kita masih akan tetap bisa jalan-jalan seperti ini, Jeng?”

Aku mengangkat bahu. “Entah, Mas. Aku tidak tahu. Mudah-mudahan masih. Mengapa tidak?”

“Entah, cuma tanya,” katamu sambil tertawa.

Aku memandang wajah kita yang bersisian dan terpantul di kaca pajang itu: kaca yang menyimpan waktu dari jaman yang entah. Mungkin ribuan tahun lamanya. Dan di sinilah kita, berbincang tentang waktu yang kita punya, di sebuah masa depan yang jauh.

Kuraba mafela merah yang melilit leherku. Hadiah darinya pada suatu hari yang tiba-tiba. Dia memang tak ada di sini hari ini. Adalah kamu yang tengah bersamaku. Yang menghangatkan jemariku dengan genggamanmu. Tetapi yang menghangatkan hatiku adalah mafela merah itu.

Advertisements