Aku tak suka meninggalkan Jakarta. Aku tak suka meninggalkan dia. Dia adalah sosok yang hadir pada saat-saat yang tak tentu. Menunggunya seperti menunggui hujan turun, yang tak bisa diramalkan hanya dengan langit mendung. Pada saat yang tak disangka-sangka, angin bisa meniup awan mendung pergi dan kembali menerbitkan matahari. Justru itu, kehadirannya selalu merupa kejutan. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Karenanya, ketika ia datang, momen itu jadi sangat berharga. Karena aku tak akan pernah tahu kapan momen itu akan datang lagi.

Tetapi aku terlanjur terikat pada janji. Pada selembar kertas yang sudah ditandatangani. Ketika ia datang, aku justru harus menyeret langkah pergi. Meninggalkan seseorang yang sudah kunanti-nanti dalam cemas hampir setiap hari. Dan ia tak pernah menahanku. “Pergilah,” katanya. “Aku pun selalu datang dan pergi secara tiba-tiba. Jadi, jangan cemas. Pada saatnya kita akan bertemu lagi. Seperti selalu. Bukan begitu?”

Sesungguhnya aku ingin ia mencegahku. Mungkin ia akan sedikit marah. Sedikit posesif. Lalu ia akan menarikku masuk ke dalam mobilnya dan membawaku pergi bersamanya. Tetapi ia hanya memindahkan aroma Java Estate di rongga mulutnya ke atas lidahku dan melempar cium jauh ketika aku menyeret koperku melewati gerbang keberangkatan. Ia tak pernah memaksa.

Dan di tempat yang kutuju, ternyata ada kamu, Mas.

Hidup memang sering mencandai kita. Misalnya, pada saat-saat ketika aku ingin menjauh darimu, kamu mengirimkan pesan pendek ke telepon genggamku. Atau saat kamu sedang ingin menemuiku, aku malah sedang bersamanya. Dan kali ini, ketika aku hendak bersamanya, sesuatu menarikku pergi, dan membawaku ke hadapanmu.

Belakangan aku tahu, bahwa pertemuan kita di Lapangan Merah itu bukan kebetulan semata. Segalanya telah diatur sedemikian rupa. Rancangan yang sempurna agar tidak menimbulkan kecurigaan sebelum keberangkatan. Manajerku selalu berpikir bahwa kamu lebih baik untukku, Mas. Denganmu, aku bisa punya hubungan yang matang. Aku akan lebih terkendali dan tidak terlalu sering tiba-tiba menghilang.

Tetapi tentu saja, ketika aku melihatmu melintas di Tverskaya pagi itu, kupikir hidup tengah bermain-main dengan takdir. Mendamparkan kita di depan teater Bolshoi dan St. Basil, lalu menarik kita ke Pecinan Kitai Gorod di timur Kremlin—-dengan jalan-jalannya yang sempit, gereja-gereja cantik dan biara, juga kafe-kafe dan bar. Seperti segala yang bertolak belakang tapi hadir bersamaan.

Dan sesi-sesi pemotretan yang kita lalui bersama seharian itu membuatku sadar bahwa hidupku hanya terdiri dari dua jarum kompas: kamu dan dia. Hatiku, tentu, selalu menunjuk ke Utara. Dan aku, maupun kamu, selalu tahu, bahwa Utara adalah dia. Tetapi Utara tidak akan ada tanpa Selatan, begitu pula sebaliknya. Jadi hidup kita sepertinya akan terus jalin-menjalin seperti benang yang rumit. Kusut.

Tiga mungkin memang angka yang terlalu sesak.

Advertisements