Its always better to miss someone secretly than to let them know and get no response. There’s always some truth behind ‘just kidding’, a little emotion hidden under every ‘I don’t care’, a little pain concealed in every ‘its okay’, and a little ‘I need you’ in every ‘leave me alone’. – Athar Ali Khan

Ia suka memotretku dengan Hasselblad-nya. Tetapi dari sekian banyak foto-fotonya, tak ada foto yang menunjukkan wajahku. Ada kakiku yang melangkah di terik matahari, jemariku menggengam segerumbul baby breath, rambutku yang tergerai di atas rerumputan, pipiku yang berbintik-bintik cokelat, tato Om Mani Padme Hum dengan aksara tibet  di bawah leherku—-tapi tak ada satu foto pun yang menujukkan wajahku.

“Apakah kamu takut?” tanyaku waktu itu.

“Takut apa?” ia balik bertanya sambil membersihkan lensa kameranya dengan lap.

“Bahwa orang-orang akan tahu bahwa kamu memotretku, sehingga kamu tak mau menangkap wajahku?” aku berbisik di telinganya seraya memeluknya dari belakang.

Ia menggeleng dan tertawa. “Aku suka memotret bagian lain tubuhmu. Mereka jauh lebih ekspresif, menurutku. Wajahmu terlalu banyak menyembunyikan sesuatu. Lensa kameraku tak bisa menembus apa yang ada di baliknya.”

Kamu juga pernah mengatakan hal yang serupa, Mas. Waktu itu, setelah aku meminjamkan kamu buku Kafka on the Shore-nya Murakami, kamu mengutip salah satu baris di buku itu: “Memories are what warm you up from inside. But they’re also what tear you apart.”

“Mengapa kamu mengutip baris itu, Mas?” tanyaku.

“Entahlah, Jeng. Terkadang kalau sedang melihatmu memandang ke kejauhan, aku sering bertanya-tanya apa yang mendesak-desak dari dalam dirimu. Apa yang berpilin-pilin di sana dan tak pernah menemukan jalan keluar.”

“Maksudmu, Mas?”

“Seperti ini,” katamu sambil menyodorkan segelas kopi panas untukku. “Seperti pada saat-saat ketika kita duduk bersebelahan. Begitu dekat, sekaligus begitu jauh. Aku selalu takut bahwa ketika kamu melihatku, kamu sebenarnya tengah menatap masa lalu.”

Aku terdiam. Membiarkan hangat dari segelas kopi panas itu merambati diriku.

“Itulah sebabnya aku tak suka Murakami, Jeng,” katamu kemudian dengan sebuah tawa yang terkesan dipaksakan. “Terlalu muram buatku. Aku jadi terbawa-bawa, bicara yang aneh-aneh.”

Mas, kurasa kenangan memang hal yang mengerikan. Jika ingatan adalah residu dari apa yang sungguh-sungguh pernah terjadi, kenangan adalah perpaduan mematikan dari hal-hal yang sungguh-sungguh pernah terjadi, dan hal-hal sebagaimana kita ingin mengingatnya. Kenangan adalah ingatan bercampur harapan. Dan harapan adalah semacam LSD yang membuat segalanya tampak indah; yang membuat warna-warni menjadi lebih terang.

Ingatanku tentangmu selalu bercampur harapan akan sebuah masa depan yang tertata rapi. Sebuah kepastian. Sebuah nomor yang bisa kutelpon setiap kali kubutuhkan. Seseorang yang akan selalu ada bahkan tanpa diminta. Ingatanku tentangnya selalu bercampur harapan akan hari-hari penuh kejutan. Ledakan-ledakan merah jambu di udara. Penantian yang membuncah menjadi kecupan tak henti-henti ketika mencapai akhir.

Mungkin aku takut, Mas. Aku takut kehilangan cinta yang selalu ada, juga takut kehilangan cinta yang meledak-ledak. Aku selalu bertanya, mengapa aku tidak bisa mendapatkan keduanya dalam diri satu lelaki? Tetapi kurasa cinta memang diciptakan sebagai semacam permainan di atas meja judi. Tak ada pilihan mudah. Ada dua peluang sama besar, dan kita hanya punya kesempatan satu kali melempar.

Dan aku masih menjadi pengecut yang menggenggam daduku erat-erat.

Aku tak ingin memintamu untuk mengerti, Mas. Aku juga tak ingin meminta Mami untuk mengerti. Mami sudah memilih untuk bersama cinta yang selalu ada. Meniadakan ledakan-ledakan bahagia yang bisa dimilikinya untuk sesuatu yang pasti dan tahan lama. Aku tak bisa mengikuti jejaknya, karena buatku cinta yang selalu ada tidak cukup untuk menenangkan desir ribuan sayap kupu-kupu di perutku. Pun, aku tak bisa memilih ledakan-ledakan itu, yang entah bagaimana, suatu hari, mungkin bisa meledakkan hatiku sebegitu kuat dan menghempaskannya menjadi keping-keping yang berserakan.

Mungkin klise, kalau kukatakan, aku ingin menunggu hingga waktu yang menjawabnya. Hingga sesuatu mengarahkan hatiku kepadamu—-atau kepadanya. Aku tak bisa berjanji kapan. Yang aku tahu, aku hanya sedang sungguh-sungguh takut kehilangan.

Seorang temanku baru saja mengalami kecelakaan pesawat, dan selamat. Ia berkata padaku kemudian, bahwa di terminal kedatangan, dengan tangan gemetar karena dirinya masih hidup, ia menatap telepon genggamnya dan menyadari satu hal: tak ada yang bisa ia telepon. Tak ada yang bisa ia telepon.

Ia baru saja berpisah dari kekasihnya saat itu, dan tak ada orang lain yang dekat di hatinya. Ia menyadari, tak ada seseorang yang mendesah gembira di sisi lain telepon karena perempuan yang dicintainya masih diberikan kesempatan hidup satu kali lagi.

Tidakkah menurutmu hal itu menyedihkan, Mas?

Mungkin aku egois karena menginginkan kamu dan dia. Tetapi aku tak pernah memaksamu untuk tinggal, Mas. Sungguh, kamu bisa pergi kapan saja. Aku mengerti jika suatu hari kamu lelah menjadi yang kedua. Dan kamu berhak mendapatkan perempuan yang akan menganggapmu sebagai satu-satunya. Mungkin justru akan lebih mudah bagiku jika kamu pergi. Dengan begitu, aku tak perlu memilih. Kamu telah memilihkan jalan bagiku untuk bersamanya. Akan lebih mudah bagi kita berdua, kan, Mas?

Tetapi kamu tetap tinggal.

Advertisements