Ini bukan yang pertama kali.

Sejak kejadian di Lapangan Merah itu, aku mulai terbiasa curiga. Penugasanku ke tempat-tempat yang jauh, apalagi jika terkesan mendadak, biasanya akan melibatkanmu—-meskipun agen maupun manajerku tak akan pernah mau bilang terus-terang. “Belum dapat nama fotografernya, lihat nanti di sana saja, ya.”

Aku selalu tahu, bahwa jawaban itu berarti kamu. Dan benar saja, selepas check-in untuk penerbangan lewat tengah malam ke Ambon itu, aku melihatmu sedang merokok di depan sebuah gate yang tutup. Seakan itu tidak cukup, siapa pun yang mengatur perjalanan ini sudah menyusun segalanya dengan rapi. Bahkan di atas pesawat, kita duduk bersisian.

Ini adalah satu di antara momen-momen menyesakkan yang membuatku merasa tidak nyaman. Ketika kamu mengusap kepalaku sebelum aku terlelap di atas pesawat, sesungguhnya kamu hanya membuatku semakin teringat padanya. Mengapa bukan dia yang selalu ada untukku. Mengapa harus kamu? Berada di dekatmu selalu membuatku merasa bersalah, Mas. Ya, karena kamu keberadaan kamu justru membuatku semakin menginginkan dia.

___

Pagi di Ambon basah. Udara bau hujan.

Efek tertidur di pesawat yang hanya beberapa jam saja sudah mulai terasa. Pukul sembilan pagi. Tubuhku ingin tidur kembali, tetapi mataku tak bisa terpejam. Aku mencuri secangkir kopi dari meja sarapan, lalu kubawa naik ke beranda di lantai lima. Langit mendung. Hotel Marina terletak persis di depan pasar. Penduduk lokal membawa keranjang, berbelanja sayuran dan ikan-ikan segar yang ditusuk pada batang bambu.

Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana: hanya duduk dan memandangi. Mendengarkan suara-suara. Membaui udara. Tetapi kemudian, kamu datang—-sama diam-diamnya seperti awan yang meredupkan matahari perlahan-lahan. Kamu menyandarkan tubuhmu pada pagar pembatas, memandang ke kejauhan dalam diam. Aku tahu kamu melihatku, yang sudah duduk di sini lebih dahulu. Tetapi kamu tidak mengatakan apa-apa. Mungkin kamu enggan memecah kesunyian. Atau mungkin kamu juga sibuk dengan pikiran-pikiranmu sendiri.

“Kita jalan-jalan saja, yuk, keliling pasar,” katamu kemudian, tepat ketika aku bangkit berdiri.

Dan begitulah, kita habiskan pagi itu dengan berjalan-jalan di pasar yang becek. Aku selalu bertanya-tanya: ikan apa ini, daun apa ini, jamur apa ini, dan seterusnya. Kamu terpaksa bersabar dengan memotret pepohonan dan ranting-ranting dari halaman gereja, sambil menungguiku yang masih berlutut membaui sagu dan macam-macam penganan yang tak biasa kulihat di Jakarta. Menyusuri trotoar, kita menjepretkan kamera dari gereja ke gereja, terus melewati balai kota, menyusuri gang-gang kecil hingga lelah: kemudian mendamparkan diri pada bangku kayu yang reyot, menikmati bakso kuah yang dijual dalam gerobak dorong.

Aku memotretmu. Kamu memotretku. Kita tertawa. Seakan-akan semuanya sempurna.

Menjelang pukul sebelas, telepon genggammu berbunyi. Kamu harus pergi ke Pantai Natsepa untuk mengecek lokasi pemotretan besok pagi. Mobil sudah menunggumu di depan hotel.

“Ikutlah,” katamu. “Kamu pasti suka di sana. Pantai itu indah. Dipagari pepohonan hijau dan pegunungan. Pasirnya putih. Di depannya berjajar Mama-Mama penjual rujak.”

Aku bilang, aku ingin mandi dulu sebentar. Badanku terasa lengket sehabis berjalan-jalan berkeliling kota. “Kamu nggak apa-apa menunggu, Mas?”

“Tidak perlu, ambil baju renangmu, dan kita berenang saja di laut. Aku jamin, pasti lebih segar dari air PAM.”

Aku tertawa. Dan mendengar bunyi ‘klik’ yang familiar itu. Kamu memotretku.

“Aku senang melihatmu tertawa,” katamu. “Ini pertama kalinya kamu tertawa sejak kita bertemu di bandara tadi malam. Kamu tahu, Jeng, suatu hari nanti, kalau kita tak bisa bertemu lagi, seperti inilah saya ingin mengingatmu: kamu yang tertawa.”

Pagi itu, bukan hanya udara di Ambon yang basah. Mataku juga. Kutengadahkan wajahku ke langit, memicingkan mataku pada sinar matahari yang mencoba menerobos gumpalan awan, menahan tetes-tetes itu agar tak berjatuhan. Saat itu aku sadar, bahwa kamu pun mengerti: betapa kita sesungguhnya hanya menghitung hari, hingga saat-saat yang penghabisan.

Dan sepertinya, kita hanya punya sisa sedikit waktu. Sangat sedikit.

———-

Image: http://vi.sualize.us/view/4f4e134df1257ad959f28d14a87ca7a2/

Advertisements