Subject: Re: Raka
20/06/2005, Raka wrote:
Dearest Rahmi,
Sorry about the delay. Hmmm, tentang pertanyaan kamu waktu itu, pernah nggak aku nyesel sama keputusan aku waktu itu?
Penyesalan…
Buat aku setiap keputusan adalah untuk dievaluasi, karena nyesel nggak pernah berguna apa-apa. Kalau buat aku, akhirnya ini adalah kompromi. Selalu ada harga yang harus kita bayar untuk hal lain yang ingin kita raih. Jadi, walaupun ada sesal dari aku, sekarang aku lebih mikir itu adalah harga yang harus aku bayar buat ada di sini.

I’ve always wanted you, but the right way (in my way), jadi sepertinya ini juga adalah pelajaran mahal buat egoku. Sepertinya kamu udah buka ‘kotak kado’ kamu ya? God girl, Rahmi yang pemberani seperti dulu waktu kamu kabur dari DC hehehe, seriously, I’m proud of you.
Doa aku yang terbaik selalu buat kamu, selalu, hmmm take a good care ya, akuuuu, hmmm…
Till we meet again ya,
Always,
Danang Raka Soediro
<SEND>
Subject: till we meet again?
21/06/2005, Rahmi wrote:
Dearest Raka,
Iya, akhirnya aku ngeberaniin ngebuka kotak kadoku/ Nimo (teori kotak kado ini selalu kamu pake kalo aku lagi kesel sama orang. Kata kamu, kenal sama orang itu kayak buka kotak kado, kadang suka isinya, kadang nggak. Inget nggak?) Setelah kemaren-kemaren punya banyak penilaian negative tentang dia, agak susah sih buat ngerubah perspektif tentang Nimo. Tapi kamu bener, aku harus nyoba nyari why Nimo vesri aku. Aku coba inget-inget lagi banyak hal. Balik lagi ke zaman SMA: apa gara-gara tanggal keramat November Rain? Apa gara-gara dia wujud nyata dari cowok imajiner yang ternyata namanya juga sama? Apa gara-gara aku pernah mimpi erotis sama dia? Apa karena segudang pertanda-pertanda?
Is there any sign or we just make it up in our mind? That we only see what our eyes want to see?
Aku pilih percaya, Ka, sama pertanda-pertanda. Kamu inget nggak dulu aku cerita kalo sebetulnya aku bisa ketemu kamu lagi di bakmi GM itu gara-gara aku sama Alin kepengen rujak yang ada di pelataran Bakmi GM. Padahal hampir aja kita makan di Pasaraya. Gila kan, cuma gara-gara rujak, dan aku ketemu kamu!
Jadi karena aku pilih percaya sama pertanda, jadi aku juga percaya sama kebetulan dan keajaiban. Tapi Ka, aku nyoba nyari, bener-bener nyari why Nimo selain atribut klisenya: ganteng, pintar, kaya raya.
Aku kepengen aja nemuin hal-hal lain yang mengagumkan dari dia seperti aku menemukan banyak hal dari seorang Danang Raka Soediro: kebiasaan life begins @ 5-nya yang awalnya menyebalkan, kopi hitam favoritnya, (3 sendok kopi, 2 sendok gula kan?), Raka dengan kutipan Leo Tholstoy-nya tentang kerjaan yang pernah jadi penyemangat waktu aku lagi stress banget sama kerjaan. Terus nemuin secara surprisingly kalo Raka ternyata mengidolakan Ponk Floyd dengan The Wall-nya. Raka yang udah kayak ensiklopedia berjalan saking sangat berwawasan luas (aku masih amazing kalau inget date kedua kita, dan kamu cerita banyak tentang kopi n how you love black coffe so much dan beberapa istilah perkopian. Kamu waktu itu certain bedanya kopi, espresso, cappuccino, latte, au lait) tapi nggak pernah  berkesan sok tau. Raka yang pinter ngedeketin Mama, Papa, Ua Iceu, Dina, Alin, sampe Si Mbok juga. Raka yang know exactly where n how to kiss…
The big surprise-nya adalah aku nemuin kalau Nimo itu ternyata orangnya sangat nggak pede-an. Aneh? Hard to believe kan? Seorang seperti Dimas Geronimo, the next Mas Boy itu taunya suka minderan. Tapi Ka, itu ngejelasin banyak hal pada akhirnya. Kayak kenapa Nimo nggak suka milih, buat dia nggak ada bedanya kemeja warna ijo atau krem, he even doesn’t care how he wants his steak to be baked, dia nggak peduli apa itu rare, medium, welldone, yang penting steak, titik. Yang lebih lucu, Nimo ternyata punya semacam kocokan arisan di mobilnya yang isinya jenis atau tempat makan tertentu. Iya, dikocok gitu cara Nimo milih hari ini makan apa atau ke mana. Ini akhirnya ngejawab juga kenapa dia hobby banget ngegantung omongannya, juga tentang mantan-mantan pacarnya yang nggak punya benang merah itu. He doesn’t know for sure what he really wants.
Kenapa akhirnya dia berbalik ke aku? Karma mungkin? Mungkin. Aku juga belum tahu, tapi sekarang aku terima alasannya kalau akhirnya percaya bahwa ada orang yang bisa sampai segitunya sama orang baik sama dia. Awalnya dia pikir itu nggak real. Tapi akhirnya dia percaya.
Kesimpulannya: Nimo ternyata nggak se-perfect yang aku pikir. He’s not, he’s nothing like you, he’s not all that I think he is.
Ka, bilang aku gila, tapi, knowing that he’s not perfect after all malah bikin aku mikir kalo he’s even more perfect than before!
I realize that seeing someone like this doesn’t come by it self. It comes with love (I think I start to fall for him). And yes, I am so cliché. But falling in love with the beast without knowing that he’s so damn rich and naturally kind is almost impossible for me. Wa always need to find our why when we fall for someone right? So, yes, once again I am maybe so predictable and cliché to fall for him. Because I am feeling lucky to have him, finally. I’ve found my why, something that I even couldn’t tell why his lack of something makes him even better, even perfect than before.
Kotak kado aku udah kebuka setengah. Jujur Ka, aku takut banget kalo yang setengahnya lagi berubah jadi kotak Pandora yang isinya ketidakbahagiaan.
But what is happiness anyway?
Achieving something? Getting something that you really want? Or on the order hand, not wanting something? The feeling or satisfaction even you only have less?
Mungkin tentang getting what you want. Tapi akhirnya yang buat aku bahagia adalah berani mengambil resiko untuk sebuah pilihan. Karena seperti yang kamu bilang, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu, kan?
So here I am, preparing for the worst but still hoping for the best.
Raka,
Buat aku, kalo cinta kita itu secangkir kopi hitam, aku sama Nimo adalah cappuccino-olahan dari espresso (ekstrak kopinya lebih kuat, sekuat keyakinan yang bikin obsesiku mengkronis, dan perasaanku sekarang that I have to do this). Jadi bukan kopi hitam regular, karena ada obsesi, ada manis, pahit, semuanya deh…
I called it cintapuccino, walaupun jujur sekarang masih dalam tahap awal lagi (brewing bukan ya, istilahnya tahap nyiapin). Hmmm, perumpamaan kopi ini kan gara-gara kamu suka kopi item, dan kamu dulu suka bilang kalo cinta kita itu kopi item regular, cinta yang natural, klasik, yang meant to be, nggak macem-macem, so pure seperti habit-nya black coffe. Ingat nggak kuliah kamu tentang kopi di date kedua kita dulu? Kamu ajarin aku definisi-definisi kopi (huaaa, kamu itu pinter banget ya, tau macam-macam..)
Terimakasih karena pernah ada dan jadi bagian dari hidup aku.
U’re the best I’ve ever had, really wist you all the next best things in life.
So, till we meet again?
Love,
Apraditha Arrahmi
Do you want to send or save it?
Saving
Saved to the draft
Advertisements