Untukmu masa lalu-ku.., yang katanya adalah “hanya” bagian dari rangkaian waktu, bukankah sebenarnya tidak secuilpun bagian yang sekedar “hanya”? maksud saya adalah, bukankah kamu tidak akan mencapai jam, jika kamu tidak melewati 60 menit dahulu sebelumnya? bukankah kamu tidak akan mencapai angka 10 tanpa melalui angka 1, 2 , 3 dan seterusnya sampai angka 9 ?
Pun seperti halnya “saat ini” yang dipuja-puja, bukankah tidak akan bisa ditempati tanpa melewatimu, masa lalu, terlebih dulu…?
lalu kemudian mengapa mereka seakan-akan seperti tidak meng-anggap-mu wahai masa lalu? sebegitu kecilnyakah artimu terhadap “masa kini”?  atau apakah karena kamu tidak dapat disentuh, walau itu baru satu detik saja berlalu, maka kemudian mereka dengan sengaja mengecilkanmu, menganggapmu tidak pernah ada? Padahal, bukankah kamu yang telah mengajarkan kami tentang rasa, tentang penyesalan, tentang pilihan, juga mungkin tentang menjadi dewasa?

Wahai masa lalu.., yang seringnya setengah mati ingin dilupakan, ditiadakan, apa salahmu pada mereka, sehingga mereka sangat sering memusuhimu, menguburmu dalam-dalam, hingga dianggap seolah-oleh kamu tidak pernah ada?

Maafkan aku jika banyak bertanya. tapi apakah kamu tahu masa lalu…, tadinya akupun hampir membencimu, benci karena membiarkan aku menangis dan terluka, pada jejak masamu. hingga akhirnya aku sadar, bahwa ternyata dirimu yang telah membuat diriku seperti saat ini. maka aku akan merasa durhaka jika aku membencimu.

Maka daripada aku marah, aku justru mendatangimu, memelukmu untuk mengucapkan terima kasih, untuk semua luka, air mata, dan mungkin tawa yang pernah kamu berikan, yang telah mengantar aku pada gerbang “masa kiniku”.
Yang telah menempa aku menjadi aku yang sekarang.

Terima kasih untuk semuanya…!

Advertisements