532740_10151462725250674_491679432_n

Seorang teman sedang bersedih. Cintanya tak sampai. Terlambat.
Hadir di waktu yang tidak tepat. Kisahnya persis seperti cerita pilu yang kemudian membuat air matanya tak henti menetes.
Mati terhadap semua rasa, katanya. Kecuali rasa sakit tentunya.
Cerita diawali ketika mereka berdua sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
Berpacaran. Hingga kemudian terpisah dengan alasan klasik.
Jarak.
Beberapa kali saya dibuat berdecak kagum oleh jejaring sosial bernama Facebook.
Banyak pasangan yang kemudian menjalin hubungan lebih serius diawali oleh perkenalan di dunia maya.
Dan facebook pun kemudian mampu mempertemukan teman saya dengan pacar masa SMU nya.

Sepuluh tahun berlalu. Tentu banyak yang berubah. Sikap yang lebih dewasa.
Beberapa mimpi yang mungkin sudah digapai keduanya.
Tapi tidak demikian dengan cinta.  Cinta yang dulu ternyata masih ada.

Cinta memang masih ada. Tapi harapan tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan.
Si pria sudah bertunangan dan akan menikah beberapa bulan lagi.
Sementara teman saya masih dengan harapan-harapan indahnya bahwa ia akan berjodoh dengan pria tersebut.

Tapi jodoh adalah masalah lain. Tidak selalu mengikuti harapan kita yang melambung tinggi.
Ia sudah ditetapkan jauh sejak ruh kita pertama kali dihembuskan ke rahim ibu.

Jodoh adalah ketetapan. Sesuatu yang kehadirannya tak bisa ditawar.
Kita, memang harus berusaha sebaik mungkin. Mengejar sesuatu bernama bahagia.
Tapi tentu kita tahu, bahwa ada yang jauh lebih berhak untuk memutuskan hasil akhir.
Allah SWT.

Teman saya menangis sejadi-jadinya di hari pernikahan pria tersebut. Dia merutuk waktu yang terlambat.
Mengatakan bahwa hidup sungguh tak adil.
Dan saya hanya bisa menyeka air matanya sambil berucap.
“Jodoh, adalah sesuatu yang tak pernah bisa ditawar. Percaya saja dengan hal itu.”
Saya mengatakan hal ini bukan hanya untuk menenangkan teman saya.
Tapi saya pernah sungguh mengalaminya.
Betapa pada akhirnya saya harus mengakui bahwa jodoh adalah sesuatu yang berada dalam lipatan paling rahasia dan
sudah tergaris jelas.

Waktu itu mungkin saya lebih hancur. Saya bisa mendengar hati saya retak kemudian jatuh berserakan.
Bagaimana tidak sakit jika impian kebahagiaan sudah di depan mata lalu terpaksa harus kita lepaskan,
dengan alasan dia kemudian mencintai dan memilih menikahi wanita lain?

Semua teman bersimpati. Memberikan dukungan yang saya akui sangat membantu.
Tapi sungguh, tidak ada yang bisa menyembuhkan luka yang kita rasakan selain diri kita sendiri.

Lalu bagaimana saya menguatkan diri?

Saya masih ingat kala itu saya menangis sejadi-jadinya.
Berpikir ulang, apa kesalahan yang telah saya lakukan.
Menghela nafas panjang untuk kemudian berkata pada diri saya sendiri.

“Hey, lihat. Bukankah hal ini justru semakin meyakinkanmu kalau “jodoh” memang ada?”

“Karena sekuat apa pun kau coba mengarahkannya, dia tetap akan menemukan jalannya sendiri.”

Kemudian saya ingat sebuah kalimat yang dikatakan seorang teman.

 Jika Tuhan berkata iya, maka itulah yang terbaik untuk dirimu.
Jika Tuhan berkata tunggu, maka akan Ia carikan waktu yang tepat untukmu.
Dan jika Tuhan berkata Tidak, maka Ia akan berikan yang lebih baik bagi dirimu.

Yakin. Saya yakin Allah SWT lebih tahu mana yang terbaik bagi saya.
Saya yakin, segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Kini atau kapanpun saya temukan alasan dari sakit yang telah saya alami, bahwa itu adalah bagian dari proses pendewasaan.  Bekal untuk menjadikan hidup saya menjadi lebih berwarna.
Karena hidup tidak harus selalu putih. Ia tentu butuh warna lain.

Daripada terus meratapi takdir yang sudah tergaris jelas, saya lebih memilih untuk berprasangka baik.
Saya selalu yakin, akan ada pelangi setelah hujan badai. Saya selalu yakin.

Kita selalu menggantungkan harapan setinggi langit.
Tapi sejenak terlupa mengenai apa yang bisa kita lakukan ketika harapan itu harus terhempas ke permukaan.
Kita lupa bagaimana cara menguatkan diri.
Pun sesungguhnya tidak ada yang bisa membuat diri kita menjadi lebih baik, selain diri kita sendiri.

Advertisements