PK

Noni sudah sampai duluan di restoran es krim di bilangan
Kemang, tempat ia janjian dengan Keenan. Tak sampai lima
menit menunggu, mobil SUV Keenan memasuki parkiran.
Tampak Keenan keluar dari mobil, masih memakai setelan kantor.
“Hai, Pak Direktur Muda. Ganteng amat,” sapa Noni.
“Nggak sempet ganti baju, Non. Tadi ada meeting, terus
langsung ke sini,” kata Keenan seraya mengempaskan tubuhnya
ke sofa.
Noni geleng-geleng kepala. “Gua masih harus menyesuaikan
diri dengan Keenan yang Direktur. Aneh banget rasanya
denger lu baru meeting, nggak Keenan banget,” ia tergelak.
“Yang gua banget apa, dong?” tanya Keenan sambil nyengir.
“Misalnya, Non, sori, gua baru begadang semaleman
gara-gara ngelukis’ atau ‘Non, sori, gua baru selesai pameran
di galeri anu’ atau kalaupun harus pakai istilah ‘meeting’:
‘Non, sori, gua baru selesai meeting sama Kugy untuk pengembangan
alien nation cabang Jakarta Timur.” Lantas,
Noni terkikik-kikik sendiri.
Ekspresi Keenan langsung berubah begitu nama satu itu
disebut. “Non, ada apa dengan Kugy sebenarnya? Lu tahu
sesuatu?”
“Seminggu ini gua belum teleponan lagi sama dia,” sahut
Noni.
“Bukan cuma soal seminggu ini, Non. Feeling gua, kayaknya
ada sesuatu yang lebih lama dari itu,” Keenan membuang
pandangannya ke jendela, ingatannya kembali ke sore
itu, di tempat dan meja yang sama, saat Kugy tahu-tahu meninggalkannya,
berlari mencegat taksi, dan tak pernah ada
kabar lagi sesudah itu.
“Eko pernah cerita, lu dan Kugy sempat
nggak saling ngomong selama hampir tiga tahun. Boleh
tahu ada apa antara kalian waktu itu?”
Noni terkesiap mendengar permintaan Keenan. Teringat
kado bersampul biru yang tertinggal di kamar kos Kugy.
Kartu ucapan itu. “Memangnya … lu ngerasa ada hubungannya
dengan Kugy ngilang?” tanya Noni, sedikit enggan.
Keenan mengangkat bahu. “Nggak tahu. Tapi gua merasa
akan sangat terbantu kalau lu bisa cerita soal itu. Nggak
tahu kenapa.”
Lama Noni terdiam. Akhirnya, ia memutuskan. “Cerita
gua dan Kugy bisa menyusul belakangan. Tapi, ada satu hal
yang berhubungan dengan itu, dan … udah saatnya gua
harus jujur,” Noni berhenti sebentar, “Nan, ini nggak
gampang gua omongin, jadi, mendingan gua tembak
langsung aja:
Kugy cinta sama lu.” Tampak ia tertegun
sendiri sesudahnya, lantas menggelengkan kepala, “Eh,
salah, salah,” Noni meralat, “Kugy cinta mati sama lu.”
Napas Keenan langsung tersendat.
“Dari waktu dia masih pacaran sama Ojos. Dari sebelum
lu ketemu Wanda. Dan gua yakin, perasaan dia masih nggak
berubah, sampai hari ini.”
Gantian, Keenan membisu. Lama.
“Gua nggak tahu persis apa yang terjadi sampai dia ngilang.
Tapi lu bener. Kemungkinan besar ada hubungannya
dengan itu semua,” lanjut Noni lagi.
“Hubungan dia dengan cowoknya gimana?” tanya Keenan.
Noni kembali menggeleng. “Nggak tahu persis, Nan.
Waktu gua datang ke rumahnya lagi sejak kita diem-dieman,
she seemed to be so in love. But who knows? Segala sesuatunya
bisa berubah,” Noni terdiam sebentar, “dan mungkin
justru karena ada beberapa hal langka di dunia ini yang susah
berubah,” sambungnya pelan.
“Dia di mana, ya, Non?” tanya Keenan. Pandangannya
kembali menerawang ke jendela.
Noni ikut terdiam. Tampak berpikir keras. Mendadak,
alisnya terangkat. “Nan … kita kok bego banget. Tanya
cowoknya aja!”
“Lu kenal?”
“Kenal. Gua ada nomor teleponnya.”
“Ya, udah! Telepon, gih!”
“Nah, masalahnya …,” Noni berdehem, “pulsa gua yang
nggak ada.”
Keenan menghela napas. “Ini berarti bukan soal bego
atau nggak bego. Ini masalah kesejahteraan sosial. Pantesan
dari tadi lu cuma missed call doang bisanya.”
“Pakai HP lu aja. Tapi, nanti gua yang ngomong, oke?”
Noni lalu membuka buku alamat di ponselnya, “Nih, gua
dikte, ya. Kosong … delapan … satu ….”
Keenan memencet nomor yang Noni sebutkan. Jempolnya
lalu menekan tombol “call”. Tiba-tiba, muncullah sebaris
nama di layarnya: Remigius Aditya.
“Remi?” gumamnya tak percaya.
“Lho. Lu kenal?” Noni ikut bertanya.
Nada itu tersambung. Tak lama, terdengar ucapan ‘halo’
di ujung sana. Refleks, Keenan menyerahkan ponselnya pada
Noni.
“Halooo? Mas Remi? Hai, ini Noni, Mas. Temannya
Kugy. Iya … ini memang pakai HP-nya Keenan. Aku juga
baru tahu kalau Mas Remi ternyata kenal sama Keenan.
Lha, kita semua memang teman-teman kuliahnya Kugy,
Mas. Ih, baru pada tahu ya! Ampuuuuuuun…” Noni Tertawa-
tawa. “Naaah, itu dia. Kita juga lagi nyariin Kugy, Mas.
Kirain Mas Remi tahu dia di mana …”
Keenan termenung. Celotehan bernada tinggi khas Noni
seolah memantul ke ruang hampa. Ia tak lagi peduli apa yang
dibicarakan Noni di telepon. Hanya ia sendirian di dalam
ruang hampa itu, berpusar dalam kenangan dan potongan
ingatan. Rekaman kalimat-kalimat Remi saat mampir ke kantornya
kembali menggaung di benak Keenan … kamu juga
pasti cocok sama dia … dia sangat istimewa buat saya …
belum pernah merasa seperti ini, seumur hidup saya …
Keenan menunduk, memejamkan matanya. Remi, orang yang
sangat ia hormati, ternyata adalah kekasih Kugy.
Keenan lalu teringat rencana besar yang dibicarakan
Remi. Ludah di mulutnya terasa getir. Pembicaraan mereka
kembali berulang, termasuk kalimat yang ia lontarkan pada
Remi … kalau Mas Remi butuh bantuan apa pun, kasih
tahu, ya. Siapa tahu saya bisa bantu.
Noni tahu-tahu mengembalikan ponselnya. Menyadarkan
Keenan dari lamunan dalam ruang hampanya. “Mas Remi
juga kelimpungan nyariin dia. Nggak tahu dia ada di mana.
Gawat nih, Kugy.” Noni berdecak. “By the way, gimana caranya
kok lu bisa kenal sama Mas Remi?”
Keenan tersentak. Teringat sesuatu. “Non … gua harus
cabut. Nanti gua telepon dan ceritain semua. Oke?”
“Lu mau ke mana?”
“Kalo orang rumahnya nggak mau bilang Kugy ada di
mana, nggak jadi masalah. Yang perlu gua cari tahu sebetulnya
adalah alamat rumah barunya Karel. Dan itu pasti
nggak akan terlalu susah, Dah!” Secepat kilat, Keenan melesat
pergi dari sana.
“Kumpeni gila.” Noni menyadari sepiring besar es krim
akan menuju meja itu, dan harus ia habiskan sendirian.
Sudah hampir gelap ketika Keenan sampai di rumah itu.
Karel sendiri yang membukakan pintu. Ia tampak terkejut
melihat kedatangan Keenan.
“Mas Karel, Kugy-nya ada?” tanya Keenan sopan. Pasti ada.
Karel tak langsung menjawab. Ia kelihatan sedang berpikir.
“Kamu aja yang nyusulin dia, ya,” akhirnya ia berkata
sambil membalik badan, menunjuk satu pintu, “dia lagi di
tempat jemuran belakang. Kamu ke pintu itu. Ada tangga
besi di dekat sana. Kamu naik aja. Kugy ada di atas.”
Keenan mengangguk. Langsung menuju tangga yang dimaksud
Karel, menaikinya hati-hati.
Balkon belakang itu hanya berbentuk dak beton. Sebuah
kursi dan meja plastik terparkir di sana. Tampak siluet Kugy
duduk memunggunginya. Kepalanya menengadah, menatap
langit senja. Rambutnya tergerai di sandaran kursi, berkibar
halus ditiup angin.
Keenan menahan napas. “Kecil ….”
Siluet itu terduduk tegak seketika. Kugy menoleh, mendapatkan
Keenan sudah berdiri di hadapannya. “Kamu …
kok … bisa ada di sini?” ia bertanya, terbata.
“Radar Neptunus,” jawab Keenan ringkas seraya tersenyum
sekilas. Ia lalu berjalan mendekati Kugy. Berjongkok
di depannya. “Kenapa harus ngilang, Gy?” tanyanya halus.
“Aku juga nggak tahu kenapa,” Kugy menggelengkan kepala,
“tiap hari aku di sini, cuma untuk cari tahu kenapa.
Dan masih belum tahu jawabannya.”
“Saya mau bantu kamu. Boleh?” Keenan lantas meraih
tangan Kugy. “Empat tahun saya kepingin bilang ini: Kugy
Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari pertama kali
kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu.
Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat
cinta ini ada ujungnya.”
Kugy terenyak. Pandangannya mulai mengabur. Matanya
terasa panas oleh air mata yang ingin bergulir turun tapi
masih ia tahan.
“Itu satu hal. Masih ada lagi yang harus saya bilang,”
Keenan mengatur napasnya, “saya sudah tahu soal Remi,
Gy. Kalau saya harus merelakan kamu untuk seseorang,
cuma dialah orangnya. Nggak ada lagi. Dia orang yang sangat,
sangat baik. Kamu beruntung.”
“Kamu juga,” desis Kugy, “aku nggak sengaja ketemu
Luhde di Ubud. Kami sempat mengobrol di pura. Dia … dia
seperti malaikat turun dari langit. Kamu beruntung, Nan.
Jangan pernah melepaskan dia.”
Keenan terkesiap mendengar Kugy menyebut nama
Luhde. Namun, pembicaraan Remi di kantornya kembali
berulang … waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan
kemarin, dia ikut dengan saya ke Ubud, tapi sayangnya
nggak ikut mampir ke galeri gara-gara dia mau memotret
di pura. Kali ini, Keenan akhirnya mengerti. Sikap Luhde
yang berubah drastis setelah pulang dari pura. Sikap Kugy
yang juga berubah setelah kembali dari Bali. Akhirnya ia
memahami.
“Luhde nggak layak disakiti,” desis Kugy lagi.
“Remi juga,” timpal Keenan lirih.
Kugy menunduk, mengerjapkan mata. Ia hampir tidak
bisa melihat apa-apa lagi dari matanya yang kian mengabur.
Hari semakin gelap. Angin semakin halus. Hatinya semakin
perih.
“Banyak sekali yang ingin saya lakukan bareng kamu,
Gy,” bisik Keenan.
Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. “Bisa. Pasti bisa.
Kita tetap bisa bikin buku bareng, kan? Dan aku tetap bisa
jadi sahabatmu.” Kugy nyaris tersedak mengucapkan kata
terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali
adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menampung
seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari
itu. Begitu luas laut yang membentang dalam hatinya.
Namun, lagi-lagi, harus ia tahan.
“Iya. Kita tetap bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu
menjadi sahabat terbaik,” Keenan menelan ludah. Kalimat
itu begitu susah diucapkan. Apalagi ketika segenap hatinya
berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya, pada Luhde,
pada Remi. Jika ini memang bantuan yang Remi butuhkan,
sama seperti ketika Remi menolongnya dulu, maka ia akan
menggenapkannya.
“Nan …,” Kugy menggenggam balik tangan Keenan, suaranya
makin lirih, “banyak yang aku ingin bilang ke kamu.
Banyak yang ingin aku kasih. Tapi, nggak apa-apa, nggak
usah. Mungkin memang bukan jatahku. Bukan jatah kita.
Kamu turun, ya, Nan. Pulang.”
Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu
dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka.
“Kamu juga jangan kelamaan di sini, Gy. Udah malam.”
Keenan menyentuh pipi Kugy sekilas. Perlahan, berjalan
pergi.
Air mata Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pandangannya
kembali terang, meski langit sudah gelap, dan
Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan menjauh.
“Nan …,” panggilnya.
“Ya?” Keenan berbalik.
“Aku nggak kepingin, sepuluh … dua puluh tahun lagi
dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat
kamu.” Kugy merapatkan tangannya di dada.
Keenan tercekat mendengarnya. “Nggak, Gy. Nggak akan.
Kalau saya bisa, kamu juga bisa.”
“Dan kamu yakin bisa?” tangis Kugy.
“Pasti ….” Suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, kebimbangan,
dan kegentaran. Namun, ia tak mungkin lagi
mundur. Satu-satu, dituruninya tangga besi itu. Lenyap dari
pandangan Kugy. Harus ada yang bisa, batinnya, kalau
tidak …. Keenan menggosok matanya yang berkaca-kaca. Ia
tak bisa mengingat, kapan hatinya pernah sepilu ini.
Di tempat yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji,
inilah tangisan terakhirnya untuk Keenan, sekaligus tangisan
yang paling menyakitkan. Ia bahagia sekaligus patah hati
pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bahwa
mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka tidak
mungkin bersama.

Advertisements