menatap bintang 2

Hi…, kamu, apa kabar? sendiriankah saat ini…? Jika iya, itu artinya kita sama. Yupzzz, karena saat ini diriku sedang sendirian, sedang duduk menghadap langit yang sedang menampakkan bulan serta ratusan, ribuan atau mungkin bahkan sampai jutaan bintang yang mengelilinginya.
Tidak usah bertanya gimana rasanya melewatkan malam dingin sendirian hanya dengan melihat langit yang daya tariknya terlalu indah jika hanya untuk dinikmati seorang diri. Pun sesungguhnya diriku sangat ingin mendatangkan dirimu di sisiku saat ini untuk membagi pemandangan cantik ini. Tapi sepertinya itu adalah sebuah hal yang mustahil, jadi biarkanlah diriku melanjutkan monolog ini, seolah-olah diriku sedang berdialog dengan dirimu, karena saat ini diriku benar-benar ingin membagi keindahan ini dengan dirimu, meski hanya lewat monologku…

Hm…ini mungkin terdengar aneh. Pada mulanya kupikir tak ada yang istimewa disaat diriku mengingatmu ketika diriku sedang sedih, berangan-angan dirimu ada disampingku menghilangkan kesedihanku, karena sungguh, dirimu selalu berhasil merubah sedihku menjadi tawa, dengan semua tingkah lakumu. Tapi kemudian ternyata menjadi terasa istimewa, karena ketika tiap kali ada perasaan bahagia yang hadir, diriku merasa salah jika bahagia itu tidak dirimu ketahui, sebab dirimulah yang harus tahu pertama kali.

Hm…sudahlah, diriku tidak mau terlampau memikirkannya. Diriku hanya mau menghayati semuanya hingga ke hatiku yang paling dalam. Menikmati setiap perasaan bahagia yang tiba-tiba menjadi berlipat ganda rasanya jika perasaan ini kubagi dengan dirimu. Tetapi memang tidak bisa kuingkari, terkadang pikirku tentang dirimu tidak bisa diriku atur semauku. Karena jika sudah tentang dirimu, maka pikiranku seringnya memberontak tanpa bisa diperintah.

Pernah, suatu waktu dirimu terus-menerus hadir dihariku, sehingga waktuku pada saat itu hanya tertuju pada dirimu, ya dirimu. Hm…, mungkin yang benar adalah pikiran-pikiranku terhadap dirimu. Dan semakin kuminta untuk menghindari hal-hal tentang dirimu, dia malah semakin memunculkan dirimu, dan justru menyingkirkan yang selain dirimu.

Sebenarnya diriku mempunyai pertanyaan yang diriku simpan untukku sendiri, dan selama ini selalu diriku pendam di sudut pikiranku. Bukan pertanyaan yang susah sebenarnya, hanya sebuah rasa penasaran, bahwa apakah yang diriku rasakan terhadap dirimu, juga dirimu rasakan terhadap diriku. Tetapi tidak pernah diriku biarkan pertanyaan ini terlepas dari mulutku, meskipun dia sering mati-matian meminta terucap keluar dari mulutku. Tapi masih dapat diriku tahan, dan memaksanya kembali, ke sudut tempat dimana dia seharusnya berada.

Tidak, diriku tidak takut untuk menanyakan pertanyaan itu, sebenarnya pertanyaan itu hanyalah pertanyaan biasa saja. Yang membuat diriku tidak mengeluarkan pertanyaan itu sesungguhnya karena pertanyaan itu selalu beriringan dengan seorang teman baiknya yang juga berbentuk pertanyaan. Dan si teman inilah yang paling diriku takutkan. Karena jika si teman ini sampai terucap, diriku takut dirimu ketakutan dan menjauh, serta diriku akan kehilangan dirimu, yang selalu inginnya diriku ajak untuk berbagi bahagia, karena membaginya dengan dirimu tidaklah sebagai sebuah keharusan tapi kebutuhan.

Jangan, tolong jangan memaksa diriku untuk memberitahu apa pertanyaan itu, karena meskipun ini hanyalah sebuah monolog, diriku merasa takut bila monolog ini tidak sengaja dirimu dengar ataupun baca.

Aduh, mengapa dirimu malah mendesak untuk memberitahukannya, dirimu tahu, menolak dirimu adalah kelemahanku, meskipun ini hanyalah dalam sebuah monolog. Oke…oke…, diriku merasa sepertinya tak akan terjadi masalah jika pertanyaannya diriku beritahukan disini, sebab tidakkah ini hanya sebuah monolog kepada diriku sendiri.

Jadi gini, kemungkinan hatiku sudah menjatuhkan cintanya kepada satu hati. Dan entah kenapa, diriku yakin bahwa cinta itu jatuhnya ke hatimu. Lalu, apakah dirimu mau membagi hatimu yang sudah diriku jatuhi cinta itu dengan hatiku…?

Aneh… setelah mengucapkannya, tiba-tiba dadaku terasa lega, dan yang lebih aneh lagi adalah, saat ini diriku justru inginnya pertanyaan ini terdengar hingga ke dirimu…

Advertisements