sahabat
Kami seperti sahabat,

Berdiskusi tentang apa saja dan terkadang saling menggoda. Sesekali, malahan kami menghabiskan waktu tanpa satu patah kata-pun. Saya menulis, sedangkan dia asyik dengan dunianya sendiri. Kemudian seperti yang biasanya terjadi, dia masuk kamar duluan, sedangkan saya masih sibuk membaca, ngemil, membaca lagi, ngemil lagi hingga tengah malam.

“aku jalan ya”, ucapnya ketika pagi sudah menjelang.

“iya…” jawabku. Masih di alam mimpi.
Kami seperti sahabat,

Terkadang ketika kami ke Mall, dan kami sudah sampai di Mall, kami akan berpisah dan nanti kami akan janjian ketemu dimana. Maksudnya adalah, kebutuhannya berbeda jauh dengan apa yang akan saya cari. Sementara waktu terlalu singkat untuk menemani dia melihat Anime ataupun game-game kesukaannya, pun demikian juga sebaliknya, betapa bosannya dia menyertai saya ke toko buku, karena setiap kali ada novel terbaru, saya akan melihat-lihat dulu, dan bahkan terkadang sepintas saya baca, dan lalu pindah ke novel yang lain. Begitulah seterusnya…

Sampai-sampai untuk mencari restoran yang pas untuk perut kami pun, mungkin bisa menghabiskan waktu seperempat jam. Makanan cepat saji sudah jenuh, kemudian pindah ke makanan ala jepang, tapi tidak jadi. Akhirnya saya memilih makan Mie dan dia Cordon Bleu, yang ternyata menunggu makanannya, lama sekali datangnya, mungkin juga karena memang sudah waktunya makan malam. Dia bukanlah spesies yang mau memakan apa saja, sedangkan saya sebaliknya.

“kelihatannya kamu bisa hidup tanpa aku,” ujarnya suatu malam.

“maksud kamu” kataku,

“setiap urusan kamu bisa melakukannya sendiri, sepertinya kamu tidak butuh aku!”

Anehnya, saya malah berpikir sebaliknya, justru dia yang sangat mandiri. Tidak bergantung pada siapapun, termasuk saya, dan mungkin yang terpenting dalam hidupnya adalah saudara-saudaranya, karena mereka yang sering dia ceritakan, berjam-jam, bahkan mungkin bisa seharian. Contohnya, tentang bagaimana saudaranya baru membeli rumah 1 M, atau saudara sepupunya yang pergi ke Jepang untuk bekerja, atau mengapa saudaranya ada yang suka pindah pindah pekerjaan.

Sering saya tertidur, atau malah nyaris tidur karena mendengarkan ceritanya.

Dan ketika suatu waktu saya membahas tentang betapa cerdasnya fira basuki membuat trilogi Jendela, Pintu, Atap, kemudian saya lanjutkan dengan novel-novel yang lain. Saya menghitung, dia sudah menguap 5 kali, tanda-tanda bahwa apa yang sedang saya ceritakan tidak menarik bagi dirinya.

Tetapi, kami tetap seperti ini…

Kalian tahu, saya membuat teh sendiri setiap pagi, memasak air panas sendiri jika ingin mandi dengan air panas, menyiapkan pelembab kulit dan seterusnya. Kalimat pernyataan ini akan sama, kalau kalian menanyakan ke dirinya juga.

Kami seperti sahabat,

Sempat bermusuhan, karena dia ingin memelihara kucing seperti dulu sebelum hidup bersama saya.
“aku pergi dari rumah jika kamu memelihara kucing”
“kenapa…?”
“aku gak suka, geli dan hiii…”

Akhirnya kami tidak mempunyai hewan peliharaan sama sekali.

Anehnya, banyak orang yang mengatakan bahwa wajah kami berdua itu mirip, seperti kakak dan adik. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah salah satu pertanda sebuah jodoh. klo saya perhatikan sepertinya memang mirip, ah…entahlah, mungkin memang kami sudah pasangan dari sananya.

Kami seperti sahabat,

Yang senantiasa berhubungan, tapi terkadang tidak sependapat. Pernah kami bertukar pikiran setelah bangun tidur. Bagaimana jika salah satu diantara kami ada yang selingkuh karena tidak puas dengan perkawinan ini…?

Kami berbincang lama sekali, diteruskan saat weekend di akhir Minggu, diskusi di kafe dengan tema yang sama, bila belum selesai juga, maka akan dilanjutkan Minggu depannya. Saat kami jalan-jalan ke luar kota, dan jalanannya sangat macet, pembicaraan tentang tema tersebut mengisi di sela-sela waktu, dan ternyata tahu-tahu kami sudah sampai di tujuan.

Di lain sisi, sesungguhnya banyak teman dia dan teman saya yang (mungkin) iri dengan kehidupan kami.

“Kalian harmonis banget ya, kompak selalu.”

“Sudah menikah tahunan, kok masih seperti orang pacaran…?”

“Aku takjub, kalian ini kan pacaran selama tujuh tahun, lalu kemudian menikah, tetapi tak ada yang berbeda.”

Demikianlah beberapa ucapan dari puluhan lainnya. Kami sendiri sebenarnya memang tidak menyadarinya. Waktu berjalan begitu saja, dan kami tidak ada pilihan lain selain mengikuti saja kemana alirannya. Dia tetap menjadi dia, dan saya tetaplah menjadi saya. Kami justru akan menjadi bingung jika ditujukan pertanyaan : “Apakah ini yang disebut dengan cinta?”

Saya punya sangat banyak novel tentang cinta, dan dia banyak melihat film tentang cinta, tetapi kami tetap tidak tahu apa itu cinta.
Tidak mengerti benar soal cinta, tidak terlalu juga mesra-mesraan, walaupun bukan berarti kami menjalaninya tanpa perasaan. Seringkali kami sama-sama cemburu.

Diam-diam saya memeriksa hp dia, dan sepertinya dia juga melakukan hal yang sama.

Paling juga muaranya kami akan bincang-bincang lagi atau diskusi lagi. Di kafe lagi, ketika weekend tiba, terus ngopi-ngopi lagi. Saya tanya, apakah dia pernah suka sama seseorang selain saya, dan apakah dia sudah mulai masuk puber ke-2 atau jangan-jangan malah ada yang suka dengan dia belakangan ini…

Dan diapun mengajukan pertanyaan yang sama. kalian tahu, jawaban kami serupa. “Nggak, nggak ada.”
padahal saya tahu (dia juga) kalau kami sama-sama berbohong.
Maksudnya adalah, ada yang suka sama dia di kantor, dan ada yang juga suka sama saya. saya paham juga, karena apa yang saya alami, sama dengan apa yang dia rasakan. Ada yang dia suka, dan ada yang suka sama dia. Mungkin karena kami tidak pernah memikirkan aspek dari luar sedemikian serius. Jadi, hal yang mungkin seharusnya menjadi permasalahan, malahan hanya menjadi semacam bumbu. iya, hanya sekedar bumbu penyedap di kehidupan kami, dalam mengarungi rumah tangga.

Kami seperti sahabat…

Kemarin, sekarang ataupun nanti…*

Advertisements