Category: Sebuah Kisah….


PK

Noni sudah sampai duluan di restoran es krim di bilangan
Kemang, tempat ia janjian dengan Keenan. Tak sampai lima
menit menunggu, mobil SUV Keenan memasuki parkiran.
Tampak Keenan keluar dari mobil, masih memakai setelan kantor.
Continue reading

Dear honey……
Seandainya hatimu adalah sebuah system, maka aku akan men-scan kamu,
untuk mengetahui port mana yang terbuka, sehingga
tidak ada keraguan saat aku c:\> nc -l -o -v -e  ke hatimu,
Tapi nyatanya aku hanya berani ping di belakang anonymous proxy.
Continue reading

Kisah Sebuah Toples…

Seorang profesor mengajar di depan kelas Filsafat dan mempunyai beberapa benda ditaruh di meja kelas. Ketika kuliah dimulai, ia tanpa berkata-kata mengambil satu toples terbuat dari kaca yang besar dan mengisinya dengan bola-bola pingpong. Ketika ia bertanya kepada para mahasiswanya apakah toples itu sudah penuh ?
Semuanya menjawab sudah.
Continue reading

Bunga…

Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirim aku bunga.
Continue reading

Seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung.

“Untuk apa?” tanya sang ayah.
“Untuk kado, mau kasih hadiah.” jawab si kecil.
“Jangan dibuang-buang ya!” pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan
kecil.

Continue reading

28 hari untuk selamanya…

Ini bukan yang pertama kali.

Sejak kejadian di Lapangan Merah itu, aku mulai terbiasa curiga. Penugasanku ke tempat-tempat yang jauh, apalagi jika terkesan mendadak, biasanya akan melibatkanmu—-meskipun agen maupun manajerku tak akan pernah mau bilang terus-terang. “Belum dapat nama fotografernya, lihat nanti di sana saja, ya.”

Continue reading

FEB 7, 2011: Kenangan…

Its always better to miss someone secretly than to let them know and get no response. There’s always some truth behind ‘just kidding’, a little emotion hidden under every ‘I don’t care’, a little pain concealed in every ‘its okay’, and a little ‘I need you’ in every ‘leave me alone’. – Athar Ali Khan

Continue reading

Aku tak suka meninggalkan Jakarta. Aku tak suka meninggalkan dia. Dia adalah sosok yang hadir pada saat-saat yang tak tentu. Menunggunya seperti menunggui hujan turun, yang tak bisa diramalkan hanya dengan langit mendung. Pada saat yang tak disangka-sangka, angin bisa meniup awan mendung pergi dan kembali menerbitkan matahari. Justru itu, kehadirannya selalu merupa kejutan. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Karenanya, ketika ia datang, momen itu jadi sangat berharga. Karena aku tak akan pernah tahu kapan momen itu akan datang lagi.

Continue reading

Waktu memaksa kita untuk terus maju. Manusia bisa saja berkutat dalam kenangan, dalam sisa-sisa masa lalu yang masih mengkristal menjadi sebentuk sekarang, tetapi waktu tidak pernah diam menunggu. Dia akan terus berlalu, tak peduli meski kita masih tersaruk-saruk jauh di belakang.

Continue reading

Dia adalah nada-nada dalam hidupku. Kadang kuat, kadang samar. Tapi pada setiap langkah yang tersesat, aku selalu bisa mendengar nada-nada itu, bahkan dengan mata terpejam. Seperti pasir yang basah, seperti ombak, air dingin yang merendam mata kakiku dan dermaga yang hangat; nada-nada itu menyelimutiku seperti matahari, lautan, dan lengkingan burung-burung pantai di musim panas.

Continue reading

“Perempuan itu sebaiknya dicintai, bukan mencintai,” demikian kata Mami kepadaku. Waktu itu ulang tahunku yang ketujuh belas. Tidak ada perayaan istimewa. Hanya ada aku dan Mami, serta secangkir teh hangat dan nasi kuning buatannya. “Carilah lelaki yang mencintaimu jauh lebih dalam daripada kau mencintainya, Jeng. Niscaya, hidupmu akan bahagia…”

Continue reading

Waktu itu musim penghujan di awal tahun. Kita bertemu untuk yang pertama kali pada sebuah dini hari. Aku basah dan setengah mabuk. Maskara dan eyeliner-ku sudah meluntur, membentuk kontur-kontur hitam di sekeliling mataku yang sembap. Dua cangkir kosong yang tadinya terisi capucinno hangat tetap tak mampu mengusir dingin itu pergi; meski bajuku sudah kering.

Continue reading

Pukul dua dini hari. Kedai kopi di bilangan Thamrin yang buka 24 jam itu masih saja ramai. Orang-orang datang berpasang-pasangan. Mereka memekik, tertawa—kadang berlebihan, mengobrol, bertengkar. Apapun sepertinya lebih baik daripada sendirian, pikirku.

Continue reading

FEB 14, 2010: VALENTINE…

Kita tidak pernah merayakan Hari Kasih Sayang bersama. Tentu saja tidak. Aku hanya kamu temui secara sembunyi-sembunyi. Lupakan makan malam romantis dan menghabiskan seharian itu berdua saja. Tidak, tentu kamu akan memilih untuk berada di sisi perempuan itu. Aku memang selalu menjadi prioritas kedua.
%d bloggers like this: